Memulai adalah Bagian Ter(sulit)
Iya, sulit! Untuk menulis kata pertama saja saya harus ketik-hapus-ketik-hapus berulang-ulang. Harus mulai dari mana? Apa yang harus ditulis? Seperti itu mungkin kebingungan dari banyak pemula seperti saya. Tidak bisa, eh mungkin belum mudah memulai. Lalu sekarang mulai dari mana?
Baiklah, daripada bingung, kita mulai saja dari kebingungan yang saya alami. Wah lihat, ternyata saya sudah mulai meulis kata per kata. Keinginan menulis "mengenai pengalaman" sebenarnya sudah ada sejak berada di bangku sekolah dasar. Saya adalah orang yang terbiasa menuliskan apapun. Tidak ada bagian buku catatan terutama bagian paling belakang yang abstain dari corat coret kisah kala itu. Berlanjut masa SMP, kartu perpus selalu penuh dengan pinjaman buku. Jika dihitung, saya perlu mengganti kartu saya berkali-kali karena kolom sudah tidak mencukupi. Hobi membaca, berdampak pula pada hobi menulis. Beberapa kali saya menulis perjalanan saya di catatan harian (sayangnya banyak yang sudah hilang), andai saja waktu itu saya tau betapa besarnya manfaat tulisan tersebut, pasti saya simpan baik-baik.
Masa SMA, adalah masa yang semakin meyakinkan saya bahwa kemampuan bahasa saya diatas kemampuan akademik lain seperti IPA dan IPS. Namun, saat itu tidak ada jurusan bahasa di sekolah. Karena saat SMA banyak waktu luang yang saya miliki, saya kembali menuliskan beberapa kisah di buku catatan khusus, waktu itu saya berencana untuk menulis novel. Lagi-lagi, buku itu sekarang entah kemana. Kembali saya menyesal, andai saya tahu bahwa saya akan sangat membutuhkan tulisan itu nantinya.
Bangku kuliah, malah menjadi puncak saya berhenti untuk menulis kisah secara khusus. Jurusan saya menuntut banyak sekali laporan yang (maaf menurut saya) tidak memberikan waktu untuk mengembangkan sastra. Saya masih sering menulis, tapi berbentuk laporan. Dengan bahasa ilmiah, yang terkesan kaku. Akhirnya seperti saat ini, di semester akhir, saat mata kuliah mulai selo saya sadar bahwa kemampuan menulis sangat berkurang. Seperti yang terlihat di tulisan saya, mungkin ada yang berpendapat "ah bahasanya kaku sekali". Ya, saya paham itu.
Tapi, berkat dorongan dari banyak pihak, insyaAllah saya akan kembali menulis. Saling membelajarkan, saya pilih sebagai nama blog karena saya sadar bahwa saya butuh belajar ekstra dari pembaca yang tentu sudah berpengalaman. Diawali dengan "bismillahirrahmanirrahim.." saya siap memulai!
(Mohon maaf masih sangat polos, sesuai dengan niat saya, dimulai dari nol) 😉
Tidak ada komentar:
Posting Komentar